Kampanye Public Relations
Disetiap tempat,
dunia public relations mempunyai peran ganda, di satu pihak berupaya menjaga
citra, baik terhadap lembaga maupun organisasi yang diwakilinya, dan di pihak
lain ia harus berhadapan dengan berbagai situasi yang kurang
menguntungkan,seperti opini publik yang negatif, kontroversial,
bertentangan, hingga mengalami saat yang
paling genting (crucial point) dan krisis kepercayaan serta citra. Dalam
upaya untuk menjaga dan mempertahankan hal tersebut, diperlukan kiat dan
strategi peranan public relations salah satunya adalah melalui teknik
berkampanye dan berkomunikasi yang efektif untuk keperluan publikasi atau
tujuan promosi tertentu.
Kampanye Public
Relations (PR campaign) dalam arti sempit bertujuanmeningkatkan
kesadaran dan pengetahuan khalayak sasaran (target audience) untuk
merebut perhatian serta menumbuhkan persepsi atau opini yang positif terhadap
suatu kegiatan dari suatu lembaga atau organisasi (corporate activities)
agar tercipta suatu kepercayaan dan citra yang baik dari masyarakat melalui
penyampaian pesan secra intensif dengan proses komunikasi dan jangka waktu
tertentu yang berkelanjutan.
Kegiatan kampanye
merupakan kerja tim. Dengan demikian banyak personel (juga lembaga) yang akan
terlibat didalamnya. Penentuan siapa saja yang akan terlibat sebagai pelaksana
kampanye (campaign organizer) merupakan langkah awal dalam melaksanakan
kampanye. Orang-orang yang akan menjadi personel kampanye harus diseleksi
dengan teliti dengan memperhatikan aspek motivasi, komitmen, kemampuan
bekerjasama, dan pengalaman yang bersangkutan dalam kerja sejenis.
Dalam peranan atau
praktik lapangan PR sehari-hari bahwa kampanye tersebut akan berbeda
pengertiannya dengan propaganda. Melakukan kampanye (PR campaign) di
sini lebih menitikberatkan untuk membangun sesuatu dengan saling pengertian dan
pemahaman (soft selling) melalui persuasi dari khalayak sasaran. Sedangkan
propaganda, selain bertujuan untuk mencari pengikut atau dukungan, juga untuk
tujuan membangun suatu pengertian dari khalayak sasaran, tetapi lebih
menitikberatkan unsur “ paksaan ” (hard selling) disamping melakukan
persuasi. Keduanya sama aktivitasnya dalam penyampaian pesan atau isu melalui
proses berkomunikasi dengan menggunakan media massa dan media nirmassa.
Menurut Venus
(2007:199) pelaksanaan kampanye adalah “penerapan dari konstruksi ranncangan
program yang telah ditetapkan sebelumnya”. Beberapa hal yang harus dilakukan
dalam tahap pelaksanaan meliputi : realisasi unsur-unsur kampanye, menguji coba
rencana kampanye, pemantauan pelaksanaan, dan pembuatan laporan kemajuan. Kegiatan
kampanye biasanya memuncak dalam event tertentu untuk menarik perhatian,
dukungan, pemahaman, dan meningkatkan kesadaran, sekaligus mempengaruhi
masyarakat tentang suatu isu, tema dan topik tertentu , contohnya : kampanye
pemilu, kampanye KB nasional, kampanye mencegah HIV/AIDS dan lain-lain.
Dalam mempengaruhi
publik (target audience) agar mau mengikuti program yang dibuat oleh
organisasi bukanlah hal yang mudah, oleh karena itu dibutuhkan adanya strategi
komunikasi termasuk di dalamnya perencanaan pesan dalam kampanye.
Proses kampanye melalui komunikasi tersebut antara lain merupakan
penyebaran informasi, pengetahuan, gagasan, atau ide untuk membangun atau
menciptakan kesadaran dan pengertian melalui teknik komunikasi. Sedangkan
bentuk dan komunikasi dalam kampanye yaitu: Komunikasi intrapersona , komunikasi
antarpersona, kelompok, massa, dan komunikasi melalui media massadan media
nirmassa.
Metode kampanye PR
dilakukan secara berencana, sistematis, memotivasi, psikologis, dan dilakukan
berulang-ulang serta kontinu (repetition and continue). Sebaliknya, jika
kampanye tersebut dilakukan secara insidentil atau hanya dilakukan sekali,
tertentu, dan terbatas maka hal ini jelas tidak bermanfaat atau kurang berhasil
untuk menggolkan suatu tema, materi dan tujuan dari kampanye.
Dalam kampanye PR
tidak terlepas dari komunikasi yang bersifat membujuk (Persuasif) dan mendidik
(edukatif), yaitu berupaya untuk mengubah perilaku, sikap bertindak, tanggapan,
persepsi, hingga membentuk opini publik yang positif dan mendukung atau yang
menguntungkan segi citra dan sebagainya. Dalam berkomunikasi atau menyampaikan pesan
(message) misalnya melalui teknik periklanan (advertising)
sebagai alatnya (tool of PR campaign) dan rencana media plan (rencana
pemasangan iklan promosi), baik di media cetak maupun media elektronik, akan
menjamin untuk “ penyampaian pesan-pesan iklan “ sebagai sarana komunikasi yang
efektif, seperti yang diungkapkan dalam pepatah : right people in the right
place and right time and the right choise.
Referensi :
Ruslan, rosady. 2005. Kiat Dan Strategi Kampanye Public Relation.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Ruslan, Rosady. 2014. Manajemen Public Relations Dan Media Komunikasi
Konsep dan Aplikasinya (Edisi Revisi). Jakarta: Raja Grafindo Persada

Tidak ada komentar:
Posting Komentar