FENOMENA DAN PROFESIONAL PUBLIC RELATIONS
Penemuan
dan inovasi dalam bidang teknologi saat ini sudah sangat pesat. Hal ini tentu
saja mempengaruhi banyak hal. Sebut saja peredaran informasi. Kemajuan
teknologi saat ini membuat peredaran informasi menjadi semakin cepat dan mudah.
Seperti teknologi internet, hanya dengan membuka suatu situs tertentu, atau
mengikuti milis dari
Group tertentu,
maka segala informasi dapat kita akses dengan mudah, tanpa ada batasan ruang
dan waktu. Dan kita sebagai masyarakat sadar teknologi mau tidak mau harus
selalu mengikuti segala perkembangan yang terjadi agar tidak menjadi orang yang
tertinggal atas informasi.
Fenomena
menarik belakangan ini adalah munculnya Public Relation Internet. Melalui
Internet semua orang bisa bekerja layaknya di perusahaan, yakni melalui blog
atau menjadi blogger. Walau dimulai sejak 1994 oleh Brad Fitzpatrick, blog atau
weblog sejak 2004 semakin diminati banyak pengguna Internet.
Fenomena
dunia internet atau cyber ini juga mempengaruhi dunia Public
Relations didalam sebuah korporat. Sehingga muncul lah istilah Cyber
Public Relations atau E-PR. Secara harfiah, mungkin E-PR
ini diartikan sebagai kegiatan Public Reations yang dilakukan
menggunakan media internet atau secara cyber. Namun, Cyber PR
ini sendiri berarti kegiatan kehumasan (PR) yang dilakukan dengan sarana
media elektronik internet atau cyber dalam membangun merek (brand)
dan memelihara kepercayaan (trust), pemahaman, citra perusahaan
atau organisasi kepada publik atau khalayak dan dapat dilakukan secara one to
one communication dan bersifat interaktif.
Dengan
kegiatan yang dilakukan Cyber PR ini, kita dapat melewati
batas penghalang baik ruang ataupun waktu dalam kegiatan kehumasan kita. Sebut
saja menyampaikan pesat korporat kepada publik yang menjadi target, tanpa harus
melakukan Media
Relations yaitu dengan memanfaatkan media massa. Ataupun melakukan Press
Conference melalui fasilitas Video Conference. Hal ini tentu
saja memudahkan kita sebagai calon praktisi untuk melaksanakan tools of
Public Relations tanpa harus direpotkan oleh persiapan yang lama
ataupun biaya yang mahal. Semua dapat dengan mudah dilakukan melalui media cyber.
Ditambah lagi, untuk biayanya sendiri tergolong murah. Korporat tidak perlu
menyewa Advertising
Agency untuk sarana pembuatan iklan atau meminta bantuan Stasiun
Televisi untuk melakukan Press Conference.
Fenomena Public
Relation online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media
konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-click informasi yang diinginkan di
komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui
informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul.
Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur
transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain Public
Relation online juga memampukan Public Relation untuk terus-menerus meng-update
informasi yang mereka tampilkan seiring dengan keadaan perusahaan baik itu
dalam bentuk promosi maupun event-event yang akan dilaksanakan oleh
perusahaan. Dalam konteks yang lebih
luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan
teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi,
industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah
pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius
pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Di
negara maju semacam Amerika sendiri terdapat tren menurunnya pelanggan media
cetak dan naiknya pelanggan internet. Bahkan diramalkan bahwa dalam beberapa
dekade mendatang di negara tersebut masyarakat akan meninggalkan media massa
tradisional dan beralih ke media konvergen. Jika tren-tren seperti itu merebak
ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan
menggantikan peran pers tradisional. Konvergensi memberikan kesempatan baru
kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka. Dari
sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia
industri komunikasi. So! Percaya atau tidak percaya tergantung kita memahaminya
seperti apa, apakah masih menggunakan cara tradisional atau ikut serta dalam
mengakses informasi dengan teknologi-teknologi yang canggih.
Menjadi PR yang profesional diperlukan adanya dasar etika dan kewajiban
moral, adanya pendidikan khusus yang sifatnya unik, serta adanya pengakuan
komunitas mengenai layanan yang unik dan mendasar selain juga otonomi dalam
praktik dan penerimaan tanggung jawab pribadi oleh praktisi.
Seorang public
relations (PR) mengemban tugas utama untuk meningkatkan reputasi perusahaan.
Untuk itu, PR harus mampu menyajikan citra sebuah perusahaan kepada publik atau
masyarakat dalam gambaran yang terbaik. Seorang PR harus mampu
menyesuaikan diri dalam mengikuti perkembangan teknologi, karena media
komunikasi yang digunakan semakin canggih. Namun,
apakah kita sudah siap dalam menghadapi fenomena cyber ini sendiri? Jawabannya ada
ditangan kita, apakah perkembangan zaman hanya akan kita lihat dan nikmati
sebagai fenomena tanpa ikut berpartisipasi didalamnya? Semuanya tergantung kita
sebagai calon-calon praktisi PR sekaligus generasi penerus bangsa.
Referensi :
http://humasbdg.wordpress.com/2008/04/12/pendidikan-ilmu-humas-di-era-globalisasi/



