Rabu, 13 Desember 2017

FENOMENA DAN PROFESIONAL PUBLIC RELATIONS


FENOMENA DAN PROFESIONAL PUBLIC RELATIONS

            Penemuan dan inovasi dalam bidang teknologi saat ini sudah sangat pesat. Hal ini tentu saja mempengaruhi banyak hal. Sebut saja peredaran informasi. Kemajuan teknologi saat ini membuat peredaran informasi menjadi semakin cepat dan mudah. Seperti teknologi internet, hanya dengan membuka suatu situs tertentu, atau mengikuti milis dari Group tertentu, maka segala informasi dapat kita akses dengan mudah, tanpa ada batasan ruang dan waktu. Dan kita sebagai masyarakat sadar teknologi mau tidak mau harus selalu mengikuti segala perkembangan yang terjadi agar tidak menjadi orang yang tertinggal atas informasi.
            Fenomena menarik belakangan ini adalah munculnya Public Relation Internet. Melalui Internet semua orang bisa bekerja layaknya di perusahaan, yakni melalui blog atau menjadi blogger. Walau dimulai sejak 1994 oleh Brad Fitzpatrick, blog atau weblog sejak 2004 semakin diminati banyak pengguna Internet.
            Fenomena dunia internet atau cyber ini juga mempengaruhi dunia Public Relations didalam sebuah korporat. Sehingga muncul lah istilah Cyber Public Relations atau E-PR. Secara harfiah, mungkin E-PR ini diartikan sebagai kegiatan Public Reations yang dilakukan menggunakan media internet atau secara cyber. Namun, Cyber PR ini sendiri berarti kegiatan kehumasan (PR) yang dilakukan dengan sarana media elektronik internet atau cyber dalam membangun merek (brand) dan memelihara kepercayaan (trust), pemahaman, citra perusahaan atau organisasi kepada publik atau khalayak dan dapat dilakukan secara one to one communication dan bersifat interaktif.
            Dengan kegiatan yang dilakukan Cyber PR ini, kita dapat melewati batas penghalang baik ruang ataupun waktu dalam kegiatan kehumasan kita. Sebut saja menyampaikan pesat korporat kepada publik yang menjadi target, tanpa harus melakukan Media Relations yaitu dengan memanfaatkan media massa. Ataupun melakukan Press Conference melalui fasilitas Video Conference. Hal ini tentu saja memudahkan kita sebagai calon praktisi untuk melaksanakan tools of Public Relations tanpa harus direpotkan oleh persiapan yang lama ataupun biaya yang mahal. Semua dapat dengan mudah dilakukan melalui media cyber. Ditambah lagi, untuk biayanya sendiri tergolong murah. Korporat tidak perlu menyewa Advertising Agency untuk sarana pembuatan iklan atau meminta bantuan Stasiun Televisi untuk melakukan Press Conference.
            Fenomena Public Relation online sekarang ini menjadi contoh menarik. Khalayak pengakses media konvergen alias ”pembaca” tinggal meng-click informasi yang diinginkan di komputer yang sudah dilengkapi dengan aplikasi internet untuk mengetahui informasi yang dikehendaki dan sejenak kemudian informasi itupun muncul. Alhasil, aplikasi teknologi komunikasi terbukti mampu mem-by pass jalur transportasi pengiriman informasi media kepada khalayaknya. Di sisi lain Public Relation online juga memampukan Public Relation untuk terus-menerus meng-update informasi yang mereka tampilkan seiring dengan keadaan perusahaan baik itu dalam bentuk promosi maupun event-event yang akan dilaksanakan oleh perusahaan.  Dalam konteks yang lebih luas, konvergensi media sesungguhnya bukan saja memperlihatkan perkembangan teknologi yang kian cepat. Konvergensi mengubah hubungan antara teknologi, industri, pasar, gaya hidup dan khalayak. Singkatnya, konvergensi mengubah pola-pola hubungan produksi dan konsumsi, yang penggunaannya berdampak serius pada berbagai bidang seperti ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan. Di negara maju semacam Amerika sendiri terdapat tren menurunnya pelanggan media cetak dan naiknya pelanggan internet. Bahkan diramalkan bahwa dalam beberapa dekade mendatang di negara tersebut masyarakat akan meninggalkan media massa tradisional dan beralih ke media konvergen. Jika tren-tren seperti itu merebak ke berbagai negara, bukan tidak mungkin suatu saat nanti peran pers online akan menggantikan peran pers tradisional. Konvergensi memberikan kesempatan baru kepada publik untuk memperluas pilihan akses media sesuai selera mereka. Dari sisi ekonomi media, konvergensi berarti peluang-peluang profesi baru di dunia industri komunikasi. So! Percaya atau tidak percaya tergantung kita memahaminya seperti apa, apakah masih menggunakan cara tradisional atau ikut serta dalam mengakses informasi dengan teknologi-teknologi yang canggih.
Menjadi PR yang profesional diperlukan adanya dasar etika dan kewajiban moral, adanya pendidikan khusus yang sifatnya unik, serta adanya pengakuan komunitas mengenai layanan yang unik dan mendasar selain juga otonomi dalam praktik dan penerimaan tanggung jawab pribadi oleh praktisi.
            Seorang public relations (PR) mengemban tugas utama untuk meningkatkan reputasi perusahaan. Untuk itu, PR harus mampu menyajikan citra sebuah perusahaan kepada publik atau masyarakat dalam gambaran yang terbaik. Seorang PR harus mampu menyesuaikan diri dalam mengikuti perkembangan teknologi, karena media komunikasi yang digunakan semakin canggih. Namun, apakah kita sudah siap dalam menghadapi fenomena cyber ini sendiri? Jawabannya ada ditangan kita, apakah perkembangan zaman hanya akan kita lihat dan nikmati sebagai fenomena tanpa ikut berpartisipasi didalamnya? Semuanya tergantung kita sebagai calon-calon praktisi PR sekaligus generasi penerus bangsa.

Referensi :
http://humasbdg.wordpress.com/2008/04/12/pendidikan-ilmu-humas-di-era-globalisasi/

PROFIL , MACAM-MACAM DAN POLA KOMUNIKASI PUBLIC RELATION



PROFIL , MACAM-MACAM DAN POLA KOMUNIKASI PUBLIC RELATION




         Sepanjang waktu kita melakukan komunikasi. Tidak ada jalan menghentikan proses komunikasi. Pada hakekatnya Public Relations ini merupakan metode komunikasi yang meliputi berbagai teknik komunikasi. Dimana didalam kegiatannya terdapat suatu usaha untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antara suatu badan / perusahaan dengan publiknya. Disini diciptakan suatu aktifitas untuk membina dan memelihara sikap serta perilaku yang menyenangkan bagi suatu lembaga/ perusahaan disuatu pihak dengan public dipihak lain.
            Kegiatan komunikasi selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan PR . Bagi PR dalam melaksanakan fungsi dan kegiatannya, berpusat pada komunikasi. Ini berarti tidak ada aktivitas tanpa ada komunikasi secara langsung maupun tidak langsung, verbal maupun non verbal dalam bentuk apapun. Komunikasi berdasarkan jenisnya terbagi menjadi tiga, Komunikasi intrapersonal, yaitu komunikasi dengan diri sendiri , dampaknya hanya dirasakan oleh diri kita sendiri ; Komunikasi interpersonal, yaitu komunikasi dengan orang lain , dampaknya dapat dirasakan pada waktu itu juga, oleh pihak yang terlibat;  Komunikasi melalui media massa , baru dirasakan dan tampak dalam beberapa waktu kemudian.  
             Pola komunikasi public relations dalam suatu organisasi pada prinsipnya adalah bahwa setiap bagian harus melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuannya. Setiap bentuk organisasi, pendekatan dalam melakukan kegiatan komunikasi yang dipakai antara satu organisasi yang lain tidaklah sama, masing-masing mempunyai karakter yang memiliki variasi yang berbeda-beda. Untuk setiap karakter organisasi, misalnya dalam bentuk suatu perusahaan sangatlah tergantung pada skala besar kecilnya perusahaan tersebut. Jika bentuk perusahaan hanya memiliki beberapa orang karyawan, maka penyampaian informasi dapat dilakukan dengan secara langsung kepada para karyawan tersebut. Lain halnya dengan perusahaan besar yang memiliki ratusan bahkan ribuan karyawan, maka penyampaian informasi kepada mereka merupakan suatu pekerjaan yang mungkin sangat kompleks dan memerlukan kemampuan sumber daya manusia untuk dapat membuat konser dalam menentukan jaringan komunikasi yang efektif dan efesien di lingkungan perusahaan.
            Untuk menciptakan pola komunikasi yang efektif dan efisien dalam suatu organisasi , secara umum kegiatan public relations dapat berupaya untuk mengatur aktivitas komunikasi manajemen melalui pola komunikasi yang dapat dikelompokkan menjadi internal communication dan  eksternal communication baik itu dalam konteks saluran komunikasi formal maupun informal. Dalam prakteknya lingkup internal communication yang terjadi dalam suatu perusahaan atau organisasi baik itu dalam konteks alur komunikasi vertikal dar atas ke bawah (downward communication), alur komunikasi vertikal dari bawah ke atas (upward communication), alur komunikasi horizontal atau komunikasi ke samping (horizontal communication), dan alur komunikasi diagonal atau komunikasi silang (diagonal communication) ataupun lingkup external communication dalam konteks perusahaan atau organisasi kegiatan komunikasinya dapat dilakukan baik secara formal ataupun informal. Dengan demikian komunikasi PR dalam organisasi atau perusahaan dapat digolongkan pada komunikasi formal dan komunikasi informal. Dasar penggolongan ini adalah gaya, tata krama, dan pola aliran informasi yang dikirimkan, ditransfer, dan diterima melalui pola hierarki kewenangan organisasi yang telah ditetapkan dalam struktur organisasi; yang biasanya disebut sebagai rantai komando; maka terjadilah komunikasi formal . Komunikasi formal dapat terjadi melalui pola komunikasi internal maupun eksternal. Namun, banyak juga pertukaran informasi di dalam organisasi terjadi dengan cara yang kurang sistematik dan lebih informal yang disebut sebagai komunikasi informal. Komunikasi informal dapat dilakukan oleh orang-orang yanga ada dalam organisasi tanpa memperdulikan jenjang hirarki, pangkat, kedudukan/jabatan, mereka berkomunikasi secara leluasa, biasanya terjadi diantara karyawan dalam suatu perusahaan yang dapat berinteraksi bebas satu sama lain terlepas dari kewenangan dan fungsi jabatan mereka. Sama halnya dengan komunikasi formal, komunikasi informal pun dapat dilakukan untuk pola komunikasi yang sifatnya eksternal, baik dari pihak organisasi kepada publik luar organisasi ataupun perusahaan, maupun dari publik luar kepada pihak organisasi ataupun perusahaan .

Referensi :
Yulianita, Neni. 2003. Dasar-Dasar Public Relation. Bandung: Pusat Penerbitan LP2M UNISBA
Widjadja, H.A.W. 2008. Komunikasi : Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara

 

Rabu, 06 Desember 2017

Media PR





Media Public relation




            Untuk menyampaikan sesuatu ide dan informasi dapat dilakukan dengan berbagai jalan dengan menggunakan berbagai media. Media memegang peranan penting dalam mensukseskan upaya Humas. Lebih-lebih bila dilihat populasi jangkauan Humas sangat luas dan banyak jumlahnya.
Setiap media memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing, namun dengan digunakan secara terpadu, maka akan saling melengkapi satu dengan yang lain.
            Media Humas (PR Media) adalah segala bentuk media (sarana/saluran/channel) yang digunakan oleh seorang praktisi humas dalam pekerjaannya dengan tujuan mempublikasikan secara luas dengan tujuan agar produk atau jasa yang humas pasarkan lebih dikenal oleh masyarakat.Media humas lebih bersifat kepada publikasi dan komunikasi. Media komunikasi yang penting digunakan humas adalah dalam kemitraannya dengan media pers (cetak atau elektronik) yang dikenal dengan media relations (hubungan media) atau press relations (hubungan pers).
            Dalam dunia kerja hubungan media adalah aktivitas yang dilakukan oleh individu ataupun profesi humas suatu organisasi untuk menjalin pengertian dan hubungan baik dengan media massa dalam rangka pencapaian publikasi organisasi yang maksimal serta berimbang (balance), yang mana pada akhirnya nanti mampu menciptakan keuntungan bagi kedua belah pihak baik itu dari perusahaan ataupun media nya.
            Public Relations membutuhkan media, dan media membutuhkan Public Relations, inilah realita dalam pekerjaan seorang Public Relations, seorang public relations dapat menyampaikan pesan – pesan nya kepada Stake Holder yang jumlahnya sangat banyak serta tersebar di berbagai tempat, hanya dengan menggunakan media massa. Sedangkan bagi media 2 massa sendiri, praktisi Public Relations merupakan sumber informasi untuk berita yang akan mereka buat. (Darmastuti, 2012 : 1)
            Menurut Cutlip, Center and Broom dalam bukunya Effective Public Relations (1994 : 263 -273) mengklasifikasikan media dalam tiga kategori, dimana ketiga macam media itu dapat digunakan untuk publik internal dan publik eksternal, yakni : 1.) The Printed word (Media Tertulis/Tercetak) contohnya : Majalah perusahaan, Surat kabar perusahaan, Pamplets, Leaflets, Brochures, Booklets, Buku pedoman kerja karyawan, Press Release, Letters, Bulletin Boards, Poster, Billboards, NaskahPidato, dan lain-lain.  2.) The Spoken Words (Media Lisan) : Meeting, Closed Circuit Television, Telaconferecing, Telephone, Konferensi Pers, Siaran Radio, Press Interview, Tape Recorder, Press Tour, Dll. 3.) The Image (Media Audio Visual) : Televisi, Film, Slides Film, Open House, Stage Event, Art Program, Pameran, Demonstrasi. Masing-masing media dalam menyampaikan pesan-pesannya juga mempunyai kekhususan. Media cetak dapat dibaca kapan saja tetapi untuk televisi dan radio hanya dapat dilihat sekilas dan tidak dapat diulang. Upaya menyampaikan informasi baik melalui media cetak, audio , dan audio visual masing-masing memiliki kelebihan dan juga kekurangan.
            Seorang praktisi humas harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai media massa karena pemilihan media massa yang tepat akan menemukan keberhasilan penyebaran pesan kepada khalayak sasaran yang dituju. Namun, hal yang pertama kali harus diketahui adalah memahami jenis media massa dan sifat dari masing-masing media tersebut. Media massa televisi misalnya, meskipun sama dengan radio dan film yang tergolong dalam media elektronik, tetapi mempunyai ciri dan sifat yang berbeda, terlebih lagi dengan media massa cetak seperti surat kabar dan majalah.  
            Pemberitaan buruk tentang perusahaan di media berarti masalah besar bagi seorang praktisi humas, karena ia harus berhadapan dengan pimpinan yang tidak puas dengan hasil kerjanya. Selain itu, dapat mengakibatkan memburuknya hubungan dengan wartawan dan redaksi media yang bersangkutan. Oleh karena itu membangun hubungan baik dengan media sangat membantu insan humas atau Public Relations dalam melaksanakan tugasnya. Untuk kelancaran berinteraksi dengn media inilah Public Relations harus membangun hubungan baik dan memberikan pengertian tentang cara kerja Pers kepada pimpinan dan bagian – bagian lain dalam perusahaan. Oleh sebab itu, penting sekali bagi (calon) praktisi Public Relations untuk memahami seluk beluk dunia media massa. Untuk bisa memahami media massa, mereka perlu memahami mediascape Indonesia mutakhir. Karena dunia media massa Indonesia mengalami perubahan mendasar sejak reformasi bergulir di Indonesia. Ditambah lagi dengan munculnya media baru, khususnya yang memanfaatkan internet, yang memungkinkan juga munculnya praktek e-public relations atau cyber-public relations. (Iriantara, 2005, 15)

Referensi :
Widjadja, H.A.W. 2008. Komunikasi : Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta: Bumi Aksara
Abdurachman, Oemi. 2001. Dasar-Dasar Public Relation. Bandung: PT Citra Aditya Bakti
http://repository.uin-suska.ac.id/4874/2/BAB%20I.pdf diakses tanggal 6 Desember 2017 pukul 13.00